Pak Kardun : '' Assalamu'alaikum ..... ''
Bu Kardun : '' Wa'alaikum Salam......, pulang malam Pap..''

Pak Kardun : '' Ya..Mah, mobilnya mogok jadi harus bermalam di penginapan...''Sambil membuka sepatu.

Kamila dan Sansan memburu bapaknya yang baru pulang dari tempat lokakarya.
Kamila, Sansan : '' Horee.....Papa pulang.....'' Kamila membawa sepatunya, Sansan membawakan tasnya mengarak dan membukanya di ruang TV.
Pak Kardun : Melihat tangan-tangan yang kecil itu membuka tas sang ayah. Muka berseri-seri dan hati penuh harapan. Dan tiada kedongkolan yang lebih menyesak kecuali bila melihat wajah berseri itu berubah menjadi lukisan kekecewaan. Meskipun tiada sepatah katapun keluar dari mulut-mulut kecil itu.
Bagi Drs. Kartadundawigena, alias Kardun dan juga bagi ayah-ayah lainnya, hal ini adalah demostrasi tanpa kata-kata. Anak-anak itu sudah terbiasa menyambut sang Ayah bila datang dari perjalanan jauh. Dan sebagai tokoh Pegri Ancap Legokwinaya, ia sering mesti meninggalkan rumah. Ke Cabang atau ke PeDe (Pengurus Daerah) di Bandung. Ke konperensi atau seperti kali ini ke saresehan.

Sansan : '' Papa nggak punya duit...'' membisikan kepada kakaknya Kamila. Kamila mengangguk.
Kamila : '' SSSttt..., jangan kedengaran nanti marah...''
Pak Kardun : '' Aku sebagai seorang ayah yang sudah biasa membawakan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak, ada rambutan, ada kacang asin, ada duku, nangka gede dll. Akan tetapi kali ini oleh-oleh itu cuma berkas-berkas. Dan para Kardun junior belum butuh kertas. Mereka tidak berkata sepatah katapun. Akan tetapi bagi-ku hal itu sudah cukup melukiskan kekecewaan. '' Bicara sendiri sambil melihat anak-anak membuka-buka berkas-berkas.
Pak Kardun : '' Mah, tadi memang masih ada uang saku untuk membeli oleh-oleh. Akan tetapi celaka dua belas, mobil pinjaman yang dipakai bertourne oleh pengurus Pegri Legok winaya itu tiba-tiba mogok. Dinamo rusak, sementara perjalanan masih jauh. Maka terpaksa sisa uang saku itu dipergunakan untuk memperbaiki dinamo. Sehingga terpaksa kali ini aku pulang tanpa oleh-oleh. ''
Bu Kardun : "Yah, tidak apa-apa anak-anakkan sudah makan malam, tidak baik juga terlalu dibiasakan selalu membawa oleh-oleh, yah lebih baik uangnya digunakan untuk yang lain, buat beli beras atau apa, buat keperluan sehari-hari."

Situasi mesti diselamatkan sebagai seorang yang sering meninggalkan rumah adalah merupakan suatu keharusan apabila pulang tidak hampa tangan. Pak Kardun mendekati isterinya.

Pak Kardun : '' Anak-anak pasti mengharapkan sesuatu oleh-oleh. Anak-anak adalah anak-anak.
Mereka tidak mesti berlaku seperti orang yang sudah jembrosan.'' Karena ketika melihat para Kardun muda membuka-buka tas yang cuma berisi kertas melulu maka iapun sadar bahwa ia telah berbuat sesuatu yang tidak biasa.
Bu Kardun : "Sudahlah...Pap jangan "berlebih-lebihan" tidak usah dibelikan oleh-oleh, segala..." Karena bagi istrinya uang sisa itu lebih baik digunakan sebagai uang belanja harian daripada dibelikan duku atau rambutan.
Pak Kardun : '' Tapi Mah, ini kebiasaan yang sudah terbina bertahun-tahun niscahya akan ''mengejutkan ''bagi insan-insan kecil itu. Mereka mungkin akan bertanya-tanya dalam hati apakah sang ayah tidak punya duit, karena kecopetan atau mempraktekan kebiasaan gaya baru.'' Dengan berbisik kepada isterinya.
Namun yang jelas mereka kecewa. Pasti dari siang mula, mereka sudah membayangkan kacang asin atau rambutan atau kue-kue. Kali ini ternyata yang muncul cuma map-map. Mereka tidak berkata sepatahpun. Dan muka-muka yang kecewa itu kelihatan ketika mereka melanjutkan acara nonton TV.

Pak Kardun : '' Oh iyah, ada simpanan Si Bungsu sebanyak Rp 50.000,- untuk ulang tahunnya. Biarlah dipinjam dulu, besok-besok akan diganti dari honorarium SPP dan BP3.''

Beberapa saat kemudian ia mendorong Vespanya pelan-pelan kemudian, Drs Kardun sudah memacu siantit Vespa 1977 nya. Ia menuju ke pasar.
Pak Kardun : '' Situasi mesti diselamatkan, aku harus menebus kealpaan untuk menghilangkan kekecewaan dari wajah-wajah kecil anakku. '' Istrinya tidak diberitahukannya.
Meskipun di pasar itu tidak akan dapat dibeli oleh-oleh sekwalitas apabila ia berada di tempat kecil itu akan memadailah. Anak-anak tidak akan terlalu pilihan seperti orang dewasa. Ia juga merasakannya ketika masih bocah ingusan.
Pak Kardun : '' Mang beli rambutan, 3 kilogram duku, sabaraha mang ?
Tanpa ditawar menawar dahulu, karena ingin segera dirumah.
Tukang Buah : Sadayana (semuanya) jadi dua puluh ribu perak. '' Sambil memberikan bungku -
san 3 kg duku dan 4 ikat rambutan. '' Hatur nuhun, Pak. ''
Kemudian Pak Kardun mendekati tukang kue odading.
Pak Kardun : "Mang beli 25 kue odading, yang masih panasnya, sabaraha ?"
Tukang Odading : "Ieu 25 odading jadi Rp 12.500,- " Sambil memeberikan kantung kue. "hatur nuhun Pak."

Pak Kardun : '' Yah Cukup. '' Sambil melihat oleh-oleh dari Pasar '' Aku harus mengusir mendung dari rumahku ini. ''

Siantik dipacunya dengan kecepatan maksimum, melalui jalan berkerikil Legowinaya. Bulan bersinar seperti sinar yang diharapkannya akan muncul dirumah. Bapak-bapak yang baik mesti mengharapkan sinar itu terutama bercahaya di rumahnya Drs. Kardun melihat arlojinya.

Pak Kardun : '' Baru jam 10.00 malam. Acara TV masih berlangsung. Anak-anak niscahya masih asyik menonton. Malam itu '' X- File '' dengan Agen FBI Murder dan Sculy yang mengejar makhluk-makhluk luar angkasa. ''

Sampai dirumah ia segera mengunci motornya dan masuk ke dalam rumah. Ia membuka Pintu.

Pak Kardun : '' Anak-anak pasti akan menyambut oleh-oleh itu. '' Katanya didalam hati. Tak ada
seorangpun muncul. '' Pastilah acara TV ramai sehingga berderum diluar. '' Ternyata TV sudah dimatikan.

Mereka pasti di kamar dengan ibunya. Drs Kardun membuka pintu kamar dengan ikatan rambutan di tangan, pengusir mendung dari rumah. Ia ingin mereka berebutan menyambut rambutan dan duku itu.

Mereka memang sudah ada di kamar, tertidur terbenam dan pulas.

Siapa pula takkan copot jantung bila kita pada suatu pagi tiba-tiba terbangun dan dalam keremangan 2 orang muncul mendekat dengan pisau di tangan. Tidak Moh. Ali dan tidak Joe Frazier yang tahan digebuk itu yang masih berlagak '' santai '' bila maut mengetuk pintu untuk mengungsikan kita ke alam lain. Apalagi Drs Karta Dundawigena alias Kardun, jago kita cuma jago bertutur bukan bertempur, jago pidato bukan ''maen Po'' atau ''Kempo''. Dua insan yang masuk ke kamar dengan hati-hati, berjingkat, pisau di tangan seperti dalam adegan filmnya Mister of Horor, Alfred Hitckok, niscahya bukan suatu panorama yang menyenangkan. Tidak seperti kalau yang membuat kita bangun itu sedang membawa kopi hangat dengan roti bakar kumplit dan menghidangkannya cukup ''ada deh'' atau ''aduh-hai'' (tentu saja bukan dari jenis lelaki).

Selesai menyampaikan ceramahnya Drs. Kardun di hampiri oleh Pak Asep, dan Pak Dani.
Pak Asep : '' Pak Kardun, sebaiknya bapak menginap saja disini sudah terlalu sore, di rumah saya saja, kebetulan kosong tidak ada yang menempati.''
Pak Kardun : '' Aduh .... terima kasih Pak Asep, lain waktu saja kasihan di rumah si Kucrit sedang menunggu nih....''

Pak Hidayat datang menemui mereka berdua, dengan terburu-buru melaporkan.
Pak Hidayat : '' Dun, mobilnya mogok tidak bisa jalan.....?
Pak Kardun : ''Mobil kita'' Si Iteung'' ?
Pak Hidayat : '' Betul, sekarang kita terlalu malam untuk pergi ke bengkel dan jauh lagi ? waduh bagaimana yah ?"
Pak Kardun : '' Apanya yang rusak ?''
Pak Hidayat : '' Karburatornya ''Pak Kardun : '' Mang Ejek bisa membetulkan tidak ? ''
Pak Hidayat : '' Bisa, tapi paling juga besok pagi jalannya ? ''
Pak Asep : '' Betul Pak, disini mah jauh kalau mau ke bengkel, dari pada di jalan ada masalah l
lebih baik bapak menginap saja dirumah saya. ''
Pak Hidayat : '' Betul Boss, demi keselamatan kita di perjalanan, kita menginap saja semalam di
sini.

Terpaksa tidur dirumah penduduk di rumah Pak Asep, mantan Kepala Sekolah SD. Pak Kardun dan Pak Hidayat tidur disebuah kamar. Pak Kardun terbangun terkagetkan oleh munculnya dua orang yang mendekat dengan membawa pisau ditangan. Di antara remang-remang kaca.

''Yat.... Yat...., Hidayat, bangun... bangun....'' berusaha menggoyangkan Pak Hidayat yang sedang tidur pulas, tetapi tidak bangun-bangun, karena makannya kekenyangan.
Pak Kardun : '' Waduh aku ini cuma jago pidato, bukan jago '' maen Po '' atau kempo.....wah....
Yat..... yat ..... bangun Yat.....''
Pemegang pisau itu semakin mendekat menuju kamar ke-dua Doktorandus itu.
Pemb-1 : ''SSSt !!'' bisik si pemegang pisau, '' Jangan buat mereka bangun.''
Pemb-2 : '' Kita potong dua-duanya, pak ? '' tanya yang satu lagi.
Pemb-1 : '' Yah, sahutnya. '' Tapi awas jangan buat gaduh ! ''

Pak Kardun melamun apabila pembunuhan itu terjadi pada dirinya dan Pak Hidayat :
Pak Kardun (Melamun) : '' Negara Republik Indonesia ini pasti akan kehilangan 2 puteranya yang terbaik. Ya Republik kita. Wilayah Kecamatan Legok Winaya. Drs. Kardun dengan Drs. Moh. Hidayat, Ketua Ancab Pegri dengan Sekbid Keuangan yang bertumbuh ''subur'' gambaran orang makmur lahir bathin itu. Ingat akan anak-anaknya yang menjadi yatim dan isterinya menjadi janda.....menerima santunan dari guru-guru......yang tidak begitu besar, hanya belasungkawa.........."
Pak Kardun : '' Yat...Yat...Bangun...ada yang mau bunuh kita...cepat bangun....'' Sambil menggo
yang-goyangkan tubuh sobatnya, tapi sobatnya tidak bisa bangun-bangun.
Pak Kardun : ''Aduh..bagaimana caranya menyelamatkan diri dari cengkraman El Maut.....''

Beberapa hari bahkan beberapa jam sebelum berlakunya adegan yang bisa mengistirahatkan jantung mereka.Tugas dari Ketua Cabang, dan kalau diteruskan ke atas dari Ketua PGRI PD Jabar dan Sekertarinya, telah menyebabkan kedua doktorandus kita berada ditempat ini dan sekaligus berhadapan muka dengan El Maut. Kardun dan Moh. Hidayat mendapat tugas untuk melaksanakan keputusan Konpus PGRI bahwa semua anggota PGRI dilarang menjadi anggota menjadi anggota partai politik,harus netral.

Pak Kardun : '' Kami berdua akan menyampaikan hasil keputusan Konpus PGRI bahwa semua
anggota PGRI dilarang menjadi anggota partai politik tertentu. Pilihannya adalah menjadi anggota terus atau exit dari Pegri bila keanggotaan partai politik tidak mau di talak tiga. Ini memang tugas berat. Karena di daerah tertentu, masih terdapat beberapa sobat guru yang masih cinta pada partai tertentu. PGRI memang merongrong ..... Anggotanya sendiri, bahkan aspirasi individul anggotanya sendiri.''
Pak Asep : '' Bukankah kita perlu berpolitik ... ! Kita perlu merespon kebijakan-kebijakan pemerintah apalagi kalau itu merong-rong hak-hak kita sebagai guru.''
Pak Kardun : '' Betul kita harus berpolitik, tetapi tidak berarti kita harus masuk partai tertentu
atau politik praktis, kita harus netral fungsinya sebagai pelayanan masyarakat, melayani semua golongan.''
Pak Hidayat : '' Dalam sejarah PGRI pada zaman Orla, PGRI ingin memelihara keutuhan organisasi, keutuhan kesetiaan anggota PGRI terhadap Negara berlandaskan Pancasila, sehingga ia pada masa itu sering berurusan secara fisik dengan mantel-mantel PKI (PGRI NV) baik yang berselimut organisasi swasts maupun yang bercokol dalam lembaga kedinasan. Kita bisa membayangkan berapa guru yang terlibat dan diamankan seperti di Jatim tahun 1967 bila PGRI tidak mau ''bobolokot''. Itu adalah PGRI ''tempo doeloe'' ?
Drs Kardun, menganggap bahwa missionnya cukup mendapat sambutan baik di daerahini. Ia tidak melihat sambutan yang negatif dari pada guru setempat. Mengapa tidak ?
Pak Dani : '' Sebetulnya keinginan insan guru Indonesia itu sangat sederhana dan elementer. Gaji tak perlu gede-gede asal cukup untuk hidup layak insan pendidikan dan datangnya tidak seret serta kenaikan tingkat yang menjadi hak setiap abdi negara tidak mesti seperti '' diperjuangkan '' segala kalau memang sudah ada aturannyadan pengaturnya.''
Pak Dodi : '' Partai ? Sory, Mister. Dari tempo doeloe juga sebagian terbesar insan guru tidak terlalu doyan. Karenanya putusan larangan anggota untuk berpartai politik bagi insan guru anggota Pegri tidak merupakan masalah.''
Pak Kardun :" Dugaan-ku mungkin meleset untuk orang khusus ini. Pak Asep adalah seorang wakil Kepala Sekolah yang disasuskan pernah menjadi tokoh lokal partai tertentu (tentu saja partai yang sah). Mungkinkah ia menaruh suatu dendam kesumat karena demikian cintanya kepada partai ? Padahal sikapnya kepada kita, inohong lokal itu cukup baik ????

Akan tetapi dialog di tempat gelap yang seram serta pisau ditangan niscahya hanya akan dilakukan oleh orang yang berniat jahat.

Para pembunuh itu sudah masuk kekamar kedua Doktorandus itu dengan kedua pisau yang terhunus, siap memotong ..........

Pemb- 1 : ''Ssssttt, awas hati-hati,'' bisik si pemegang pisau.
Pemb- 2 : ''Awas pegang baik-baik.'' Sambungnya.

Drs. Kardun menahan nafas, dan membaca doa-doa dalam hati semoga terjadi sebuah keajaiban
dalam jaman Globalisasi ini, sehingga ia masih bisa berpidato, mengajar dan menjual diktat kepada siswa Kapege.

Mereka semakin mendekat dan pisau yang tajam itu memotong........memotong.......memotong.....
ikatan dua tandan pisang Raja Cere yang tergantung dekat kaki doktorandus itu.

Pagi itu sarapan adalah goreng gurame, jengkol, emping dengan ''pisang Raja Cere'' sebagai cuci
mulut.
Pak Asep : '' Silahkan dimakan Pak Kardun dan Pak Hidayat ???? ''
Pak Dani : '' Dan ini Pisang raja Cere..... Sebagai pencuci mulut. ''

Pak Kardun melihat pisang raja cere perutnya menjadi agak mual, sedikit....kayaknya, kurang ti
dur atau masuk angin mendadak.

PENGANTAR

Ada sebuah kebiasaan dalam PGRI bahwa sekali anda menunjukkan kebolehan dalam bertutur
dimuka sidang, maka anda akan tercatat dibatin insan-insan PGRI untuk diberikan kesempatan bertutur dalam pertemuan-pertemuan lainnya.. DRS. KARDUN, alhamdulillah, termasuk kategori ini. Ia relatif adalah bicarawan yang kesohor di Legokwinaya.

Dan begitulah karier seorang bicarawan ''KESOHOR'' Tugas-tugas mewakili cabang untuk berceramah atau memberikan sambutan, atau permintaan masyarakat setempat untuk memberikan khutbah-khutbah dalam peringatan sebagian terbesar diserahkan kepada Drs. Kardun. Ini tidak berarti bahwa sang ketua cabang maupun sekumnya tidak mampu bertutur apalagi kalau ada sangkaan bahwa tiba-tiba keduanya menjadi gagap atau bisu.

SYAHDAN menurut sahibul cerita sang bicarawan kita tengah bertutur disebuah pertemuan. Dan seperti biasa hadirin terpaku oleh kebolehan sang doktorandus Sejarah diatas mimbar. Namun tiba-tiba muncullah seorang laki-laki tinggi besar,berpakaian tidak terlalu bersih, dan mulutnya komat-kamit kedalam ruang sidang.

Pak Kardun sedang membuat sebuah naskah dengan sebuah komputer, tangannya dengan lincah menggerakan tuts dengan lancar. Pak Dudi (Kepala Sekolah SD Legok Meong lll) mengetuk pintu dan langsung masuk ke kantor Pak Kardun.
Pak Dudi : '' Assalamu'alaikum '' Sambil menyalami beberapa anak buah Pak Kardun, '' pak Kardun ada ? Bertanya pada Pak Hidayat.
Pak Hidayat : '' Ada di kantor sedang membuat makalah. Silahkan Pak Dudi langsung saja masuk, Pak Kardun tidak begitu sibuk.''

Dudi masuk kedalam kantor Pak Kardun yang sedang mengetik sebuah naskah.

Pak Dudi : '' Assalamu'alaikum...bapak Drs Kardun ??? Sambil tersenyum dan mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan.
Pak Kardun : '' Wa'alaikumsalam '' sambil menangkap jabatan tangan temannya. '' Bapak Dudi kemana saja '' Where have you been ? '' sudah 2 tahun kita tidak bertemu, bapak Kepala sekolah Legok Meong III hahaha... '' sambil menepuk punggungnya '' Silahkan duduk. ''
'' Ada apa nih saudara kita jauh-jauh dari Legok Meong ?
Pak Dudi : '' Begini Pak Kardun dalam rangka Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Kita di Legok meong mengundang bapak Drs. Kardun untuk mengisi ceramah ilmiah dengan tema Masa Depan Pendidikan Indonesia Memasuki Melinium ke-3. ''
Pak Kardun : '' Siapa saja yang di undang dalam acara itu dan kapan acaranya ?
Pak Dudi : '' Pak Camat, Lurah, Tokoh-tokoh pendidikan, Orang tua siswa, para guru, dan pelaksanaanya pada hari sabtu 2 Mei ?
Pak Kardun : '' Kebetulan saya sedang membuat makalah tentang '' Learning Forum ''Pendidikan masa depan di Indonesia. Meskipun APBN kita hanya menganggarkan 6 % untuk biaya pendidikan untuk lebih dari 200 juta penduduk. Karena hutang kita banyak . Kita tidak boleh menghentikan sekolahnya karena tak mampu untuk membayar SPP. Pendidikan adalah masalah bersama.''
Pak Dudi : '' Betul dari pada buat rekapitalisasi per bankan yang katanya Triliyunan rupiah banyak bocoran disana-sini, bagi-bagi duit. Tapi itu mah dulu, itu juga kata koran, sekarang ada atau tidak ada, yah kita tunggu saja beritanya di koran. Kita mah orang kampung''
Pak Kardun : '' Saya akan membahas masalah yang berat di dunia Pendidikan Pasca AFTA, Saya akan bahas mengenai '' Global Paradox '' tulisan John Naitsbit '' Global Learning '' Quantum Learning '' dan '' Learning Form'' Tholabul ilmi minal Lahdi ilal Mahdi '' Live long of Education. ''
Pak Dudi : '' Makanya saya mengundang bapak Kardun untuk mengisi acara seminar ini, karena bapak ini di kenal meski berbicara tentang materi yang berat-berat dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna oleh guru-guru di kampung (IntelektualVilage).''
Pak Kardun melihat anak-anak murid SD sedang melakukan senam Pagi Indonesia, sebagian bermain bola berebut bola dengan ceria, main karet, sepintrong, mereka begitu ceria....terharu.
Guru dan murid SD di Kampung. Pak Dudi Kepala Sekolah SD Legok Maung lll melihat Pak Kardun mematung dan menegurnya.
Pak Dudi : '' Masya Allah Pak Kardun ..... Sudah datang, silahkan masuk Pak. Tamu wajib dihormati, silahkan masuk, Pak. ''
Pak Kardun : '' Saya mampir dahulu kesini sambil ingin melihat perkembangan pendidikan di SD
Legok Maung dari dekat.''
Pak Dudi : '' Sambil melakukan observasi, tapi maaf sebentar akan saya ambilkan dulu air minumnya.''
Pak Kardun : '' Jangan repot-repot, aku kan hanya mampir, tidak lama.''

Mereka duduk dikursi berhadap-hadapan berbicara santai, Jam menunjukan pukul 07.30 WIB.
Pak Dudi : ''Masih ada waktu 1,5 jam lagi, sebelum acara seminar nanti, silahkan diminum...Pak Kardun.''
Pak Kardun : '' Terima kasih. '' Sambil mengangkat gelas dan meminum beberapa teguk. '' Enak
juga tehnya.. ''

Pak Kardun berdiri dan berjalan menuju jendela melihat lagi anak-anak yang sedang berolah raga, bermain dan bercanda riang gembira.
Pak Kardun : '' Dud, masih ingat kepala sekolah kita Pak Setia Negara. ''
Pak Dudi : '' Yah..'' beliau sekarang sudah pensiun sekarang jadi petani di desa.''
Pak Kardun : '' Dahulu ketika aku punya perasaan ''Shy'' malu karena tidak punya seragam ke
sekolah, aku kesekolah memakai sendal jepit, teman-teman di kelas si Sartono menghina aku, tapi kamu yang membela aku... dan kau menang dalam pertarungan.''
Pak Kardun : '' Saking malunya aku dihina, aku tidak sekolah tiga hari, aku membantu kakek-ku
menggembala kambing, menyabit rumput. Tapi Pak Setianegara datang kerumah menyarankan agar aku tetap sekolah. Dia memberikan spirit kepadaku untuk maju.Aku masih ingat akan kata katanya : '' Kardun kamu ini anak yang cerdas, kamu ini seperti si Otak setan, banyak ingin tahu, mengulik, kamu sudah habiskan semua buku-buku bacaan di perpustakaan, hanya dengan banyak membaca kamu akan berubah hidup ini.''
Pak Dudi : '' Betul, kita harus berterima kasih, rasanya kita harus menyambungkan silaturahmi, kapan-kapan kita mengunjungi beliau.''
Pak Kardun : ''Yah, kita harus meluangkan waktu untuk menjumpainya, kamu Dud carikan alamatnya dan beri kabar aku nanti.''
Pak Kardun di kagetkan oleh bunyi lonceng sekolah ...teng...teng...teng.. Pak Dudi santai saja.

Pak Kardun : '' Lho ini baru jam 08.00 WIB, sekarangkan belum waktunya istirahat, istirahatkan nanti jam 10.00 WIB, apa kamu bikin aturan sendiri??? sambil melihat jam tangannya dengan keheranan.
Pak Dudi : '' Ah itu ulah Mang Jarwoki, sudah biasa ???
Pak Kardun : '' Mang Jarwoki, Siapa ?Pak Dudi : '' Mantan Pe-Es (Penjaga Sekolah) di sini di SD Legok Meong. ''

Mang Jarwoki memukul-mukul lonceng bel sekolah sambil berteriak-teriak dan terkekeh-kekeh
tertawa sendiri.

Mang Jarwoki : '' Istirahat-istirahat...kelas mau Mamang sapu, mau di pel... istirahat...istirahat...
hehehehe...''

Kemudian si Mamang masuk kelas V , membawa sapu, dan lap, meskipun Ibu guru sedang mengajar matematika dikelas.

Mang Jarwoki : Selamat pagi bu Tuty.....hehehe'' Sambil terkekeh-kekeh '' Saya mau membersihkan kelas...heheh." Sambil menyapu kelas.
Anak-anak pada tertawa : " Hahahah..hahahh." Mang masih bersih...jangan disapu." Secara serentak menyuruh Mang Jarkowi dengan halus.
Mang Jarkowi tidak menghiraukan anak-anak tetap menyapu kelas, kolong bangku, kolong meja dan lantai.
Anak-anak pada tertawa te-hahahah...hahah. Serentak mengatakan "masih bersih - masih bersih - masih bersih." Dengan maksud menghalau si Mamang.
Tapi Mang Jarkowi cuek bebek teguran anak-anak. Tetap menyapu lantai kelas. Bu Teti mendekati si Mamang Jarkowi.
"Mang, kelas ieu masih bersih, tuh di luar bersihkeun runtah, asupkeun kana wadah runtah atau mamang bersihkeun weh kaca..."
Anak-anak : "Bersih keneh, bersih keneh..." Secara serentak, mendukung ibu guru.
"Oh iyah...bersihkeun weh kacana hahahah...bersih keneh...bersih keneh." Menjadi dirigent anak-anak.
" Hure...hure..." tanda kemenangan sambil melakukan tos sesama temannya.
Di ruang Kepala sekolah terjadi pembicaraan antara Pak Dudi dan Pak Kardun , masalah Mang Jarkowi.
"Mang Jarkowi itu dikenal sebagai seorang yang agak kurang waras otaknya, karena tekanan bathin."Kata Pa Dudi sambil menunjuk dahi dan menepuk dadanya.
"Apakah si Mamang sudah menjadi kandidat RSJ Cikeumeuh itu ?" tanya Kardun.
"Ya, tapi dua hari di RSJ Cikeumeuh langsung sembuh dan boleh pulang, kemudian kambuh lagi."
"Apa penyebabnya ?" tanya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Menurut desas desus. Ia punya anak 3 orang meninggal 2 orang. tapi dalam daftar gaji dicantumkan 6 orang. Ini berlangsung dulu sebelum ada penertiban pegawai yang terkenal dengan nama"pemutihan."
"Bagaimana sampai terjadi sulap demikian menajubkan ? Pasti banyak yang terlibat dalam permainan ala Jarkowi ini ?"
"Setelah ada pemutihan dan keadaan dipulihkan kepada yang seharusnya, Si Mamang menderita semacam penyakit bathin. Kabarnya ia sering mimpi anaknya yang telah meninggal, dan fiktifnya menyalahkan perbuatannya itu."
"Maka si Mamangpun terpaksa dihentikan dari tugasnya." Sela Kardun.
"Yah, ketika diketahui bahwa ia sering berbuat yang aneh-aneh, memukul lonceng sembarang waktu, menyapu kelas bila ada pelajaran, berkomat-kamit atau tertawa sendiri di hadapan guru-guru dan murid-murid niscahya bukan hal yang wajar."
"Untunglah ketidakwarasannya adalah tidak termasuk yang membahayakan orang lain seperti memecahkan kaca jendela..." Sambil Pak Kardun bangkit dari tempat duduk dan melihat keluar dari jendela.
Pada saat bersamaan Mang Jarkowi melihat ke dalam kantor Kepala Sekolah dari jendela dan terjadilah beradu mata antara Mang Jarkowi dan Pak Kardun. Pak Kardun terperanjat kaget, tapi si Mamang hanya terkekeh-kekeh.
"Heheheh, Selamat pagi...heheh Bapak Kepala Sekolah...heheh." Sambil membersihkan jendela kaca dengan koran basah.
Pak Kardun berbicara dihadapan ratusan peserta seminar antara lain para guru, orang tua murid, Pak Camat, Lurah, Pemda, penjelasan seminar menggunakan In Focus.
Pak Kardun :" Suka atau tidak suka , siap atau tidak siap kita akan memasuki AFTA 2003 dan nanti APEC 2010. Dalam global Paradok John Naitsbitt menyebutkan bahwa dunia ini semakin menyempit sementara komponen-komponen terkecil semakin penting. Anak-anak didik kita akan memasuki pasaran tenaga kerja internasional, dengan melihat kondisi yang ada sekarang ini, anak didik kita akan kebingungan, mereka akan dilindas oleh para pesaing-pesaing mereka. Secara singkat produk pendidikan dalam negri tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan luar negri. Dan lebih menyedihkan lagi bagaimana tingkat pendidikan masyarakat kita di Legokwinaya dan sekitarnya..."
Menjelaskan dengan menggunakan tabel, jumlah penduduk, jumlah lulusan SD,SMP, SMU dan PT, buta huruf, jumlah sekolah , jumlah penganggur. Dihadapan ratusan peserta seminar Drs. Kardun selalu berhasil memukau para pendengar dengan uraian yang padat dan berisi.
Mang Jarkowi masuk ke dalam ruang sidang pastilah sangat tidak menguntungkan Drs. Kardun, dengan perawakan yang tinggi besar, duduk diantara deretan tamu-tamu pengunjung. Memperhatikan penjelasan Drs. Kardun sambil termangut-mangut, tanda kagum, sambil komat-kamit, kadang-kadang terkekeh-kekeh.
Pak Kardun : " Menurut Bobby De Porter dalam quantum Learning ada tiga keterampilan dasar yang harus diajarkan : Keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup (life skill), belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses. Harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia."
Para peserta terpukau dengan ceramah yang disampaikan oleh Drs. Kardun. Pak Kardun berhenti berbicara dan melihat respon dari para peserta, kemudian dia melihat Mang Jarkowi diantara peserta seminar. Dia bicara dalam hati.
"Bagaimanapun juga ia adalah orang yang kurang waras, yang mungkin akan berbuat hal-hal yang kurang waras pula dalam sidang terhormat itu."
Drs. Kardun, maklum orang cerdas, segera tahu bahwa orang yang baru masuk itu pastilah orang"luar biasa" dalam arti yang negatif. Di hadapan ribuan hadirin, termasuk Panggede, mungkin Drs. Kardun akan tetap tenang, berkepala dingin. Akan tetapi bila diantara hadirin ada seorang yang kurang beres, maka soalnya akan lain.

Mang Jarkowi duduk dengan mulut terbuka, sebentar-sebentar tertawa, ter hehehh dan komat kamit. Apalagi bila perawakan jangkung besar diantara deretan tamu-tamu pengunjung, niscahya tidak memberikan ketenangan kepada bicarawan manapun juga.
Di podium Drs. Kardun yang tadinya berbicara lancar mulai kurang konsentrasinya melihat tingkah laku mang Jarkowi.
Pak Kardun : " Quantum berarti loncatan. Manusia ternyata memiliki kemampuan luas biasa untuk meoncat, untuk naik diatas kemampuan yang diperkirakan. Kita hanya memanfaatkan sebagian kecil saja dari potensi kita. We live only a small part of the live we are given. Betapa seringnya kita menyia-nyiakan potensi kita, baik karena kesalahan metode atau karena tidak memiliki keterampilan yang relevan. Itu menunjukan...itu menunjukan... (mulai tidak konsentrasi melihat Mang Jarkowi mulutnya komat-kamit)."
Keringat tiba-tiba mengucur dari tubuh tokoh kita. Bicaranya yang asalnya lancar. licin, lucu tiba-tiba menjadi macet, seperti Nyi Iteung (mobil Pede) Pengurus Daerah PGRI terganggu karburatornya.
Mang Jarkowi :" Itu menunjukan bahwa pendidikan itu...heheh" Berusaha membantu pidato Pak Kardun yang mendadak menjadi terbata-bata.
"Salah satu ...(sambil melihat Mang Jarkowi yang komat-kamit)...(menyeka keringatnya dengan sapu tangan). Membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya..."

Tangan bung Kardun yang tadinya digunakan untuk membantu memberikan tekanan dalam pidatonya, kini menggapai-gapai tak tentu raba. Sebentar-sebentar menyeka keringat, sebentar-sebentar memegang meja mimbar, sehingga sewaktu ball point "Erow" nya terjatuh, ia tidak mengetahuinya.
Pada detik itu pula Mang Jarwoki tiba-tiba tampak berdiri. Mata hadirin tertuju kepada sesosok tubuh tinggi besar menghampiri Drs. Kardun dengan tangannya mengacung-ngacung.
Mang Jarwoki : '' Pak...pak...Pak pembicara....'' Sambil mengacungkan tangannya.
Melihat situasi gawat ini, doktorandus kita dengan sigap meloncat dari mimbar dan...lari pontang panting seperti dikejar satu resimen Drakula. Si Mamang melihat Drs. Kardun lari, tertegun sejenak, kemudian mengejarnya. Maka berlarilah mereka laksana 2 orang atlit pelari cepat sedang menempuh babak final.

Peserta seminar berhamburan keluar menyaksikan perlombaan lari Pak Kardun dan Mang Jarwoki.
Pak Kardun : '' Waduh cilaka...tujuh puluh...dijewol sama orang gila....aduh...''

Drs. Kardun melompati pagar sekolah dengan cekatan, akan tetapi Si Mamang pun ternyata
mampu melakukannya dan terus mengejar sarjana kita yang pantatnya terpeot-peot karena takut dijewol mang Jarwoki yang bertangan besar-besar.
Kardun melintasi lapangan sepak bola dengan sekuat tenaga kakinya, akan tetapi ternyata Si
Mamang mengejarnya dengan terengah-engah.
Berkat pengalamannya sebagai atlit sewaktu muda, Drs. Kardun berhasil dapat meninggalkan
si Mamang sehingga bekas karyawan SD itu makin lama makin jauh tertinggal, mungkin karena tubuhnya yang tinggi gede.
Drs. Kardun kini merasa agak lega, karena pengejarannya makin jauh tertinggal, meskipun masih jauh berlari di belakangnya. Ia mengendorkan larinya, untuk sedikit mengambil nafas.
Kini bung Kardun telah jauh meninggalkan Mang Jarwoki yang nampaknya sudah kehabisan nafas dan akan menghentikan pengejarannya. Doktorandus kita melewati sebuah pematang sawah menuju pinggir jalan.
Pak Kardun : '' Mudah-mudahan si Mamang menghentikan pengejaran ini...haduh sudah cape...''
terengos-engos nafasnya keringat membasahi sekujur tubuh...

Pada detik itu pula sebuah malapetaka menimpa Drs. Kardun. Ia menginjak tumpukan kiambang diatas pematang itu dan terpeleset serta kehilangan keseimbangannya dan ... Ia terjatuh terjerumus kedalam kotakan sawah yang baru dibajak.
Pak KArdun : '' Addduuuuuuuuuhhhhhhhhh sakitnya tidak kepalang......'' Kakinya keseleo.

Doktorandus kita mencoba berdiri akan tetapi kini terasa olehnya bahwa kakinya keseleo. Ia merangkak-rangkak dan mencoba duduk untuk mengurut kakinya.
Pak Kardun : '' Aduh sakit lutut ku... aduhhhh.''

Tapi pada saat itu pula Si Mamang tumbuh kembali semangatnya dan langsung memburu Drs. Kardun yang telah tak berdaya.
Mang Jarwoki : '' Ter hehehehe....bagus....hehehehe bagus....hehehehe.''
Pak Kardun : Bicara sendiri '' Berlari, jelas tidak mungkin, melawan juga sama gilanya, apalagi melawan orang gila yang bertubuh besar tinggi dalam keadaan fisik yang demikian payah.'' Drs. Kardun berserah diri kepada Tuhan. ''Ya Tuhan ..... pembela kaum yang tertindas. Tolonglah hamba....'' Dengan suara yang melirih menahan rasa sakit di lututnya. Menunggu apa yang akan terjadi.

Si Mamang makin lama makin lama makin mendekat. Mulutnya terbuka,matanya melotot, mukanya berseri-seri, melihat Drs. Kardun yang tak berdaya.

Kini Mang Jarwoki sudah tinggal 2 meter dekatnya. Tangannya yang besar-besar merentangkan
ke arah Kardun, Drs. Kardun menutup matanya, menunggu tangan-tangan kekar Mang Jarwoki
meremas mukanya. Ia mendengar suara si mamang mendengus dan mengheeeeee.....
Mang Jarwoki : '' Hehehe..., pak. Ini ball point ''Ero'' milik Kardun."
Si Mamang lalu berbalik dan..... berlari kembali ketempat semula ke gedung seminar untuk mendengarkan ceramah lanjutan Drs. Karta Dundawigena.
Pak Jalil : Yah, ampun bapak....kayak kerbau kesakitan....di dalam lumpur.'' menghampiri sobatnya Pak Kardun.
Pak Kardun : '' Sompret ..... kamu Jalil bantu nih aku tidak bisa berdiri.....'' Sambil tangannya
menggapai minta di tarik.

Pak Jalil mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Pak Kardun, tapi karena tubuh Pak Kardun lebih berat dan ada sedikit pikiran usilnya. Pak Kardun menarik Pak Jalil sehingga ia pun masuk kedalam kumbangan sawah seperti kerbau.... nampak dua ekor kerbau berwujud manusia.
Pak Dudi Panitia seminar datang membantu mereka berdua yang sudah seperti kerbau diatas petak sawah.....
Pak Dudi : '' Mari saya bantu.....'' Tangannya mengulurkan ke dua orang sobatnya.

Kontan saja keduanya menarik tangan Pak Dudi sehingga masuk kedalam kubangan lumpur. Jadilah 3 ekor kerbau di kubangan berwujud manusia. Akhirnya 3 ekor kerbau berwujud manusia itu menuju gedung seminar, yang sudah di tunggu oleh mang Jarwoki yang sudah ditunggu oleh mang Jarwoki yang duduk di tempat semula sambil terkekeh-kekeh....heheheheheheheheh............


Hari Guru tanggal 25 Nopember, untuk pertama kalinya dirayakan di luar ibu kota kecamatan Legokwinaya. Sekali-kali perlu untuk memberikan kesempatan pada ranting yang mampu untuk merayakannya, demikian pendapat tokoh organisasi swasta yang paling top di Legokwinaya Drs. Karta Dundawigena alias Kardun. Tentu saja meskipun ini adalah pendapatnya, ia juga meminta pertimbangan anggota pengurusnya. Dilingkungan PGRI, inisiatif, motivasi, kritik diundang agar berkembang untuk dibicarakan bersama. Sekali keputusan diambil maka ini bukan lagi keputusan sipengambil inisiatif. Dan semuanya mesti menghormati dan mentaatinya, terlepas apakah tadi ia setuju atau tidak. Inilah diskusi rapat hari guru di kantor Cabang PGRI Legok Winaya.
" Saya mempunyai usul karena kegiatan hari guru setiap tahun selalu diadakan di ibukota Kecamatan bagaimana untuk kali ini kita mengadakan di luar kecamatan ?" Kata Kardun kepada peserta rapat.
"Saya setuju, kami Ranting Kertawinaya siap jadi tuan rumah, dengan alasan terdiri dari 5 kampung dengan jarak yang cukup berdekatan serta 7 buah SD dan sebuah balai desa yang cukup representatif untuk ukuran Legokwinaya serta kegiatan masyarakat yang cukup mantap dalam masa reformasi pembangunan ini." Kata Endut mengusulkan sarannya.
"Setuju saja, tapi Desa Kertawinaya itu terlalu jauh dari tempat kami Legok Meong, dan saya pun bersedia menjadi tuan rumah ?" Kata Pak Sar'an mengomentari.
"Saya setuju dengan usulan Pak Endut ?" Kata Pak Edi.
"Baiklah, pada prinsipnya semua setuju untuk Peringatan Hari Guru dilaksanakan di luar Ibu Kota Kecamatan Legokwinaya ?" Kata Pimpinan Rapat, Kardun.
Peserta rapat :"Setuju !!!"
"Kita lakukan voting saja, siapa yang setuju diadakan di tempat Drs. Endut dan Pak Sar'an angkat tangan, Okay." Kata pimpinan Sidang Kardun.
Peserta : "Yah.. setuju."
"Yang setuju diadakan di tempat Drs. endut ? Silahkan berapa orang ? satu, dua , tiga....20 orang, berarti sudah 2/3 setuju diadakan di Kertawinaya. Kesimpulan rapat hari ini adalah peringatan hari guru diadakan di Kertawinaya, setuju...!!!
Peserta : "Setuju."
Kardun :"Dan terakhir saya mempunyai usul, bagaimana kalau Bapak Endut saja sebagai ketua Pelaksananya ???"
Pesrta : " Yaaaa... setuju....."

"Selamat atas terpilih Drs. Endut sebagai Lurah di Desa Kertawinaya, berarti kau dapat dua jabatan struktural dan fungsional, sebagai guru dan sebagai Kepala Desa, dan kalau dihitung jumlah tunjanganmu sama dengan eselon IA Rp 9 juta...hahahah." Sambil memberikan uluran tangan dengan hangat kepada temannya pak Endut.
"Itulah enaknya jadi guru, kepercayaan masyarakat terhadap Bapak dan Ibu Guru sebagai kaum intelek desa (Village Intellectuals), tidak hanya percaya untuk menitipkan anaknya agar cerdas, tapi juga guru adalah tokoh masyarakat, guru adalah digugu (ditaati) dan ditiru." Kata Endut.
"Hahahah." Tertawa pendek " Guru selalu dilibatkan bukan saja kegiatan-kegiatan seperti perayaan nasional dan kegiatan yang memerlukan pengerahan masa akan tetapi juga sering dalam pemilihan pemimpin desa. Dan kau yang terepilih...." Hheheheh"
"Ini juga karena aku ini seorang guru dan ikut organisasi PGRI, yah itulah guru Desa, Intelek Desa (Village Intellectuals)." sambil tersenyum..."
"Yah peristiwa ini mesti kita rayakan dan syukuri, gurulah yang melahirkan para reformis sepanjang masa." Kata Kardun sambil terharu menggelegar dadanya mengenang para reformis yang gugur muda.

Pak Kardun sedang membersihkan motor vespanya di depan rumahnya.
"Pak belum juga berangkat !!!" Kata Ibu Kardun.
"Ah, sebentar lagi, perjalanan ke Desa Kertawinaya hanya memerlukan 20 menit perjalanan."
"Aku hanya mengingatkan, pakaian resmi sudah siap..., jas, dasi diatas meja, balpoin erow dan sapu tangan." Kata Entin Kardun.
"Yah, terima kasih sayang." sambil melihat senang kepada istrinya. "Yah selesai..si Domba, Si Perahu, vespa keramat yang mengantarkan aku jadi sarjana...heheheh." sambil menggepalkan tangannya.
Pak Kardun masuk kamar mengganti pakaian yang kotor penuh oli dengan pakaian resmi....

Pak kardun keluar dari kamarnya dan menghampiri istrinya.
"Mah , bagaimana serasi tidak pakaian ini." minta di taksir oleh sang istri.
"Yah, kau tambah ganteng saja Pap. Serasi sekali..."
"Tapi rasanya jas ini makin menyempit saja." Sambil memperhatikan perut dan pinggulnya.
"Yah kan jas itu sudah lama, dulu kamu agak ramping sekarang kamu agak gendut heheh hihihi... Ayo ah cepat berangkat..."
"Iya beres..." Sambil berlenggok menghampiri sepeda motornya.
"Tunggu dulu pak, jangan lupa ini jas hujan dan payungnya..." berteriak di dalam rumah Pak Kardun sudah siap berangkat.
"Ah, mah tidak usah...hari ini begitu cerah, aku yakin tidak akan ada hujan..." motor terus berlalu...""Yah...sudah. Kalau tidak mau bawa ." sambil memegang jas hujan dan payung.

Pak Kardun naik vespa antiknya berjalan diantara sawah subur dan palawija.
"Masih ada waktu 30 menit lagi...acara belum dimulai, santai saja..." Menyelusuri jalan ke arah Kertawinaya diatas vespa faforitnya, Si antik 125 cc kelahiran 35 tahun silam yang olehnya di gelari "Si perahu."

Jam menunjukan pukul 08.30 WIB masih ada waktu 30 menit sebelum dimulai. Matahari pagi bersinar kuning pucat di celah awan kelabu yang beriring ditiup angin. Bulan Nopember memang musim hujan. Sedangkan jarak ke Kertawinaya masih cukup jauh.
Celaka bagi yang punya lelakon. Tiba-tiba hujan memaksa turun, seakan-akan tidak tahan lagi bergayut sebagai awan. Mula-mula bergerimis dan kemudian menderas. Drs. Kardun cepat-cepat membelokan vespanya ke sebuah warung yang untung letaknya tidak jauh. Untuk memaksa menentang alam tanpa berjas hujan akan sangat merepotkan, terutaman karena ia akan menjadi pusat perhatian.
"Hujan ...wah cilaka tujuh puluh nih..." Masuk ke ruang resepsi dengan pakaian basah kuyup jelas tidak akan menguntungkan." Sambil membelokan vespanya ke dalam warung.
"Wah gawat ini, tidak bawa jas hujan lagi, masuk ke ruangan resepsi dengan pakaian basah kuyup, akan jadi bahan lelucon saja." Sambil melihat jam tangannya. "Waduh ...tinggal 15 menit lagi... memalukan kalau kesiangan."
" Bi, ada jas hujan, tidak ??? Saya mau pinjam jas hujan nanati kalau sudah selesai nanti saya kembalikan kesini !!!!""Sebentar saya cari dulu." Mencari ke dalam rumah." Ohhh maaf sedang dipakai suami saya ke balai desa Kertawinaya. Ada acara hari guru." Kata Bibi warung.
Bibi warung masuk lagi ke dalam rumah... memebawa payung hitam yang sudah butut dan ada bagian-bagian yang rombeng.
"Tapi kalau payung hitam mah ada lumayan dari pada ke hujanan ."
" Ah, nuhun Bi, Saya naik vespa, bervespa sambil berpayung jelas menjadi bahan tertawaan orang. Belum lagi terdapat risiko ditiup angin kencang. Atuh payungna ngapung, terbang ?"
"Naon atuh, da teu aya deui, tidak ada lagi, paling oge daun pisang kalau mau mah akan bibi potong daun pisang di belakang.
" Ada kantong plastik yang besar tidak bi. " Setelah berfikir sejenak.
"Kalau kantong plastik gede mah aya, nih silahkan... sambil memberikan kantong plastik besar..."
"Aduh terima kasih Bi, saya ikut ke belakang bi..." Sambil nyelonong ke dalam rumah.
"Silahkan Den...."

Drs. Kardun pergi ke belakang dan kemudian menaggalkan pakaian resmi resepsinya yang kemudian dimasukannya ke dalam kantong plastik itu dan disimpannya dalam tempat barang vespa antiknya. Dengan hanya bercelana dalam dan singlet ia menuju tempat resepsi itu dalam hujan yang semakin deras.
"Waduh tinggal 10 menit lagi... harus di kebut nih." Sambil melihat jam tangannya dan memindahkan gigi koplingnya.
Waktu tinggal 10 menit lagi. Desa Kertawinaya semakin dekat. Angin bertiup kencangnya. Disebuah belokan ia berpapasan dengan sebuah Landrover, milik Pak Camat !
"Waduh mobl Pak Camat ! Berarti bahwa Pak Camat sudah dahulu datangnya. Akan sangat tidak enak bila tuan rumah mesti ke dahuluan undangan." Di kebutnya motor vespa antiknya. Pada saat itu mendadak si Antik terbatuk-batuk untuk kemudian berhenti sama sekali."Wah pasti gara-gara businya kebasahan. Maklumlah si Perahu sepanjang jalan kehujanan dan kebanjiran. Cilaka nih..."
Dicoba mensaternya kembali. Namun Si Sepuh tetap membandel . Jarak ke Balai Desa tinggal 2 kilometer lahi. Untuk berlari kesana, jelas bukan jatah Kardun yang tidak muda lagi.
Untunglah ada seorang anak yang sedang berhujan-hujanan sambil naik sepeda. Dengan tidak berfikir panjang dihentikan sepeda anak itu.
"Jang, kamu bapak bonceng, ya ?" Tanpa menunggu jawaban, di pegangnya batang kemudi, sementara si anak yang terpelongo keheranan dengan segan naik boncengan di belakang.
"Tunggu yah...bapak mau menyimpan motor dulu." Si Perahu setelah di kunci dibiarkannya di sebuah kandang bersama 3 ekor kerbau yang keheranan melihat teman baru yang sangat asing.
"Ayo kita berangkat." Naik sepeda ke balai Desa.
"Ayo...tancap terus..." kata si Ujang.
Drs. Kardun dengan cepat mengebut sepeda itu ke arah Balai Desa yang semakin dekat.
"Sompret !!!" Gerutunya. "Pakaian, dasi, celana ada di kantong plastik." Ia baru teringat bahwa pakaian resminya yang terbungkus plastik tertinggal di belakang, di dalam tempat barang vespa antiknya, aman dan kering bersama 3 ekor kerbau yang terus menerus melengguh-lengguh keheranan."
"Kenapa pak sepedanya berhenti." kata si Ujang.
"Baju tinggaleun jang di motor vespa ?"
Sepuluh meter sebelum balai desa . Pak Hidayat dan Jalil siap menyambut undangan.
"Tuh bos kita kehujanan...ayo Jalil bawa payung." Kata Hidayat.
"Ah masa...kenapa tidak dibaju...pakai sepeda lagi..." Kata Jalil.
"Pak, tadi saya meminjam mobil Pak Camat Landrover untuk menjemput bapak." kata Hidayat.
"Bapak meni sexy...tamu sedang menunggu bapak memeberikan sambutan." Kata Jalil menggoda.
"Baju saya tertinggal di kandang kerbau...bagaimana yah..."
"Tidak apa-apa bapak memberikan sambutan apa adanya hahahah..." Kata Jalil.
"Jangan heheheh ...aku pinjam baju kamu.... INi keputusan pimpinan...tau sendiri, kalau menolak perintah dalam organisasi. Ayo ah kedinginan.
" Ah...malu pak... seperti tarzan mah. Mana banyak ibu-ibu muda."
............Hujan masih berlangsung....Pak Kardun mencari baju seadanya.








Sekolah Lanjutan Pertama Legokwinaya akan mendapat kunjungan Bapak Kepala Kabin, meskipun tidak khusus meninjau sekolah tersebut, telah menciptakan suatu kesibukan yang luar biasa di sekolah itu. Sungguh hebat menurut ukuran Legokwinaya.
Hal-hal yang selama ini dianggap tidak mungkin, dengan selusin alasan "ilmiah" tiba-tiba menjadi mungkin. Usaha-usaha sekolah yang sebelumnya dianggap terlalu muluk, terlalu tidak sesuai dengan kondisi dan situasi "tiba-tiba" menjadi suatu kenyataan yang dapat "dibanggakan" dan sebagainya dan sebagainya. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat sekolah itu dapat memenuhi ketentuan-ketentuan yang diperlukan untuk mendapat penilaian yang mungkin cukup memuaskan, sedikitnya memuaskan orang-orang setempat.
Bapak Kepala Sekolah membaca surat dari Kanwil Pendidikan Nasional tentang akan diadakannya kunjungan Bapak Kepala Kabin, yang akan melakukan supervisi ke sekolah tersebut mengadakan rapat guru secara mendadak.
" Kita akan memberikan kesempatan kepada Kepala Kabin untuk mengadakan supervisi secara seharusnya.Kita tidak perlu mengada-ada yang tidak ada, tapi yang seharusnya ada itu wajib ada." Kata Kepala Sekolah memberikan pengarahan dan memberikan ketegasan.
"Pak Ending, Pak Kardun, Pak Jalil, sebagai kepala seksi kami harapkan menyiapkan berkas-berkas program kerja baik yang lalu maupun tahun ini." Perintah lanjutan Kepala Sekolah.
"Baik Pak akan kami selesaikan." Dengan serentak Pak Ending, Pak Jalil dan Pak Kardun menjawab.
"Demikian juga para guru harap siap dengan kelengkapan-kelengkapan administrasi yang semestinya dimiliki. Seperti persiapan harian, persiapan mingguan, dan bulanan, catatan-catatan, daftar angka, ledger, daftar pribadi murid, kumpulan soal-soal ulangan dll. dll, harap stan by, terutama saudara-saudara yang akan naik golongan harap seruan saya ini saudara laksanakan. Demi kepentingan saudara-saudara sendiri."
Kepala Sekolah dan Pak Jalil mengadakan inspeksi persiapan sekolah, melihat dari dekat sarana fisik sekolah." Mang Sarkim, itu kakus-kakus bau sekali !!! Bisa jadi membuat pingsan seekor kuda liar, coba beri Dreolin atau Densol, juga sekalian tulisan-tulisan nakal dan jorok pada tembok-tembok WC di cat dengan warna putih." Perintah Koordinator lapangan Jalil.
" Baik gan, nanti akan mamang bereskan." Kata Mang Sarkim sambil memelas kalah.
"Sekalian, tembok sekolah dicat bersih, biar nanti sehari sebelum berlangsung kunjungan itu halaman sekolah tertutup bagi permainan volley atau sebangsanya, yang dapat mengotori dinding." Perintah lanjutan dari Bapak Kepala Sekolah."Baik gan akan mamang laksanakan dengan semaksimal mungkin."
"Sekalian dengan perbaikan bangku, kursi dan genting yang bocor, memalukan sekali apabila Bapak Kabin atau utusannya akan kebagian jatah bocor apabila nanti mengadakan inspeksi." lanjut Kepala sekolah.
"Betul gan, maklum sedang hebatnya musim hujan." Mang Sarkim mengiyakan supaya tenaganya tetap dipakai Kepala Sekolah.
Rumput-rumput yang liar sebelumnya merajalela telah dibersihkan dengan memobilisir anak-anak. Bangku-bangku dan kursi-kursi yang reyot telah mendapat perawatan dari Mang Sarkim penjaga sekolah. Genting-genting yang bocor idem ditto telah diperbaiki berkat Mang sarkim yang cekatan.Kepala Sekolah :" Pak Jalil, tolong sampaikan instruksi saya, supaya anak-anak memakai seragam sekolah dengan rapi, terutama pada hari yang bersejarah itu. Siswa-siswa yang suka berpakaian urakan beri peringatan secara baik-baik dan yang sering terlambat juga dipanggil dan beri peringatan supaya tidak terlambat."
"Baik pak akan saya sampaikan instruksi bapak kepada rekan-rekan guru." Kata Jalil penuh penghormatan.
Kepala Sekolah :" Pak Kardun sebagai guru senior, tolong sampaikan kepada guru-guru yang kadang-kadang ke sekolah dengan bersandal mendapatkan teguran khusus. Yang sering terlambat juga di peringati secara baik-baik sesama keluarga."
"Baik pak , biasanya yang suka pakai sandal itu guru honorer pak, akan saya sampaikan."

Pak Ending BA, guru seni suara mendapat tugas khusus melatih para siswa melagukan lagu wajib secara seharusnya. Karena sebelumnya diketahui bahwa siswa belum mahir bernyanyi secara berpadu. Beberapa orang bahkan buta maat atau buta nada, sehingga sering menyanyikan "Satu Nusa " seperti Dangdanggula.
"Coba perhatikan kedepan papan tulis, kita akan menyamakan dulu suaranya ? Sa....." Dengan tabah pak Ending memimpin anak-anak yang suaranya tidak harmoni.
Murid-murid " Sa...saaaaa." Satu Nusa... Satu..bangsa."
"Coba , itu Dodi di belakang suaranya jangan terlalu cepat, mendahului teman-teman yang lain." Kita mulai lagi . samakan iramanya secara bersama-sama..Satu..Nusa..."
Tidak pula ketinggalan pula para guru, meskipun sebagian besar adalah tenaga honorer, mendapatkan instruksi khusus untuk menyiapkan segala keperluan. Beberapa guru yang sering nakal dengan tidak membuat persiapan, atau paling barter membuat catatan pelajaran yang telah diberikan, nampak sibuk sendiri membuat "Persiapan harian." berlaku surut untuk setriwulan penuh. Demikian pula persiapan-persiapan lainnya, etc.etc, diharuskan siap untuk diperiksa Bapak Kabin. "Siap tempur" untuk disupervisi sang Kepala Kabin. Guru-guru seperti terdapat diantara guru Sekolah lanjutan yang malas atau alpa membuat persiapan mendadak sontak menghabiskan ballpoint mereka untuk kembali mengingat-ingat pelajaran yang telah diberikan pada tiap kelas, sempat tersenyum lebar dan mengganggap hatinya telah plong dangan bangga memperhatikan kesiapannya kepada rekannya. Akan tetapi para beliau itu tak urung pula mengungkap-ungkapkan ingatan untuk mengisi "anekdot records" atau catatan-catatan kecil mengenai perilaku siswa.
"Anak yang bengal yang pernah di peringatkan Kepala Sekolah itu siapa namanya ?" kata Ibu Ina kepada Ibu Metty."Oooh, itu si Iwan, yang suka berkelahi itu !"
"Lalu yang suka ngantuk itu si Lina atau si Minah ? tanya yang lain."
"Yang sering membolos di II B itu Si Umar , Ya ?" memotong pembicaraan Ibu Ina dan Ibu Metty.
"Liburan semesteran teh tanggal berapa yah ?" Tanya Pak Jajang.
Drs. Kardun yang juga mengajar mata pelajaran Sejarah di sekolah itu turut sibuk. Karena yang punya lelakon ini adalah insan yang paling malas membuat persiapan dan catatan-catatan lain tentang siswa.
"Terus terang saja Hid, Aku sering lupa mencatat pelajaran yang telah diberikan. Apalagi membuat persiapan."
"Apakah dari dulu kau urakan dalam hal persiapan ?" Kata Hidayat.
"Tiiidak, dulu waktu mulai kerja...." Kata kardun
"Dan belum jadi sarjana" sela Hidayat.
"Hooh, aku termasuk salah seorang yang paling rajin membuat persiapan dan lain-lain. Tapi kau tahu bahwa makin lama kita makin menguasai vak kita, dan makin sedikit tantangan dari anak didik, dan makin renggang pula jarak pengetahuan kita dengan mereka, dan ...... semakin membosankan pekerjaan itu. You now why ? Karena tiap tahun kita mengajar yang itu-itu juga. Yang perang, yang kawin dengan Ken Dedes atau Napoleon Bonaparte itu-itu juga. You tahu bahwa aku mengajar sejarah sudah hampir 10 tahun tanpa lihat buku. Di luar ini nih..." dan ia menepuk dahinya.
"Jadi bagaimana kalau pak Kabin menanyakan persiapan ?"
"Akh Hidayat, pakai ini nih." dan ia menunjuk kepalanya lagi."Kita tulis aja deh apa yang telah kita berikan, kan aku tahu mulainya dan batas-batasnya."
"Itu namanya bukan persiapan lho."
"Ya memang bukan." jawabannya tenang. "Pokoknya itu adalah catatan apa-apa yang telah kita berikan, atau gbahasa muluknya "Persiapan Mental" yang sudah kulaksanakan di kelas. Memang semestinya aku membuatnya sebelum mengajar, pekerjaan ini menjadi demikian eentoning, monotonous, membosankan. Demikian santai aku memberikannya, sehingga yah terpaksa aku sering lalai membuat persiapan mengajar. Karena aku selalu siap. You boleh tonton bila aku mengajar sejarah dan bandingkan dengan beliau yang terbongkok-bongkok membuat persiapan, dan you dapat chek apakah yang dipersiapkan para beliau selalu sesuai dengan apa yang diberikan. Jadi catatan pelajaran yang diberikan itulah yang aku laksanakan."
"Jadi bila pak Kabin minta persiapanmu karena niscahya sang beliau melaksanakan tugas rutin administrasi terlepas dari kewajiban observasi psikologis terhadapmu, bagaimana ?"
" Sudah ku katakan, itu mah ada disini." Ia menunjuk lagi kepalanya. "Pokoknya Pak Kabin tidak akan kecewa bila melihat semua catatan Karta Dundawigena (Nama Lengkap Kardun). Satu lagi Hid, yang paling aku pentingkan dan belum pernah aku lalaikan bagaimanapun juga, ialah mengajar dan membuat catatan kemajuan anak, yang berupa daftar angka beserta catatan kecil. Itu belum pernah keluar dari ni (menunjuk lagi kepalanya) belum pernah ku karang-karang, terlalu gede dosanya.""Ngarang juga itu dosa, apalagi....." Kata Hidayat menyela pembicaraan.
"Ngarang persiapan juga memang dosa, hanya mungkin dosa kepada Pak Kabin dan pada hati kecilku sendiri. Tapi itulah salah satu segi yang tidak terlalu realistis dari supervisi, ialah tidak selalu yang terlihat yang terperiksa itu adalah pekerjaan yang rutin, yang perlu mendapatkan penilaian dan saran-saran perbaikan dari Bapak Supervisor. Kita tahu tiap manusia selalu ingin mempertahankan"standingnya", gengsinya conduitenya meski secomot . Kendatipun demikian dari pada tidak ada supervisi karena sekali-kali kita perlu melihat kekurangan diri menurut penglihatan orang lain."
Untuk menghadapi dialog yang diadakan, para guru telah siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang"inteligent", bukan pertanyaan yang awam. Karenanya mereka sibuk membaca-baca tentang gagasan "Sekolah Pembangunan" sebagai persiapan mental agar nanti bila bapak Kabin berceramah tentang itu sudah terjadi kontak pengetian. Dan Bapak Kepala sudah mahir akan kata-kata pembukaan yang akan dipraktekan nanti, maklumlah sang beliaulah yang akan memimpin pertemuan itu. Segala pengalaman dari rapat dinas dan pegeeri siap untuk dimanfaatkan. Pokoknya the big boss must get very good impresion.
Drs. Kardun dan Jalil keluar dari ruangan dan terlibat berdebat dengan Pak Jalil tentang persiapan yang terlalu diada-adakan.
"Kalau segalanya serba diada-adakan. Bagaimana Bapak Kabin dapat mengadakan supervisi. Bukankah maksud supervisi adalah untuk memberikan sampai berapa jauhkah program sekolah dapat terlaksana, apakah yang menjadi rintangan dan hal-hal apakah yang dapat diperbuat bersama untuk mengurangi rintangan dan menyelesaikan program." Kata Kardun memulai pembicaraan.
" Teorinya memang begitu !" "Akan tetapi kau jangan lupa bahwa kesan baikpun perlu diberikan. Dengan kesan baik itu kita akan mendpat fasilitas-fasilitas, karena Bapak Kabin niscahya akan mempertimbangkan dapat tidaknya sekolah ini memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan."Kata Pak Jalil menyanggah pernyataan Pak Kardun.
"Baiklah, aku juga menggangap perlu akan hal itu. Akan tetapi batinku selalu berteriak apabila segala sesuatunya nampak terlalu diada-adakan, terlalu dibuat-buat, terlalu seperti sandiwara. Bukankah hal ini seperti politik ABS (Agar Bapak Senang). Padahal aku yakin bahwa Bapak Kabin terlalu berpengalaman dalam hal ini. Beliau niscahya akan mengetahui mana yang sudah biasa berlaku dan mana yang diada-adakan. Sambutan macam ini, pakai degung segala niscahya tidak akan membahagiakan beliau. Inikah kunjungan dinas, bukan kunjungan parawisata." Kata Kardun tidak mau kalah.
"Jangan lupa Dun, degung itu cuma dipamerkan, bukan untuk dimainkan bila Pak Kabin datang." Tungkas sang sobat.
"Okay, tapi kau lihat itu pamer-pamer photo. Itukah sama dengan mengelabui diri sendiri ? Karena sebagian terbesar adalah adegan-adegan yang pakai sutradara. Latihan-latihan tari, aktivitas perpustakaan yang nampak besar animonya, praktek ilmu alam, dll. dll yang kau lihat dalam photo-photo itu kan baru saja dibuatnya dengan memanggil khusus juru potret. kalau semua sekolah memamerkan hal-hal seperti kita bagaimana jadinya Sekolah Pembangunan nanti ?" Kata Kardun tak mau mengalah.
"Tapi kau jangan lupa Dun, bahwa sekolah kita ini perlu mendapat perbaikan-perbaikan. Ia perlu jadi sekolah teladan supaya mungkin jadi SL Pembangunan. Untuk mencapai ini kita harus memperhatikan kemampuan kita." Komentar sang teman.
"Kemampuan mana yang kau maksud ? Kemampuan atau pura-pura mampu ? Perlukah seorang pasien berpura-pura serba sehat apabila ada inspeksi dokter ?" Kata Kardun dengan analogi berfikirnya.
"Alaaaa, kau memang konyol, Dun. Guru macam kau ini tidak punya masa depan. Untunglah guru urakan macam kau tidak banyak." Tungkas sang sobat.

Syahdan pada hari bersejarah itu setiap warga disekolah itu sudah siap menerima kunjungan Bapak Pengawas. Semua berusaha berlaku sewajar mungkin. Agar segala sesuatunya mampak berjalan seperti sudah menjadi rutin.
Pak Kepala Sekolah " Dalam surat dijelaskan bahwa Bapak Kabin atau utusannya akan tiba jam 09.00 tepat. Para penyambut harap stand by."
Pak Jalil :" Segalanya sudah siap, Pak."
Pada saat itu jam dinding milik Pak Kepala yang sengaja dipinjamkan demi suksesnya supervisi sudah menunjukan jam 10.00 akan tetapi Bapak Kabin belum nonghol.
Jam 11.00 semua yang tadinya nampak tenang sudah mulai gelisah. Ibu-ibu guru panitia penyambut yang berseragam dan guru-guru yang tidak biasa berdasi, mulai berkeringat.
Jam 11.30 mobil bapak Kabin belum juga nampak. Celakanya langit mulai mendung dan hujanpun turun. Dalam hujan lebat itu sebuah mobil berhenti dan seorang guru cepat-cepat membawa payung untuk menyambutnya. Karena tak salah mobil itu adalah mobil Kabin.
Dengan dipayungi oleh Pak Jalil (guru yang cekatan itu) orang yang baru turun dari mobil menuju mereka yang sudah bersiap-siap. Ia bukan Bapak Kabin yang ditunggu-tunggu, bukan pula pengawas lain.
Utusan Kabin : "Maaf kami terlambat." Bapak Kepala Kabin tiba-tiba harus mengikuti rapat dengan Sekjen, dan mungkin besok hari beliau akan berkunjung kemari, sementara pengawas-pengawas lain pada sibuk. Saya hanya memberi tahukan saja. Tetapi agar kunjungan saya ini berguna. dan sesuai pula denga tugas saya di Kabin, maka saya ingin melihat catatan SPP di sekolah Sdr. Menurut catatan sekolah Sdr. belum setor selama 5 bulan........"Kepala Sekolah :"Jadi bapak mau melihat catatan SPP."
Utusan Kabin :"Betul, mungkin ada yang harus diperbaiki."
Kepala Sekolah :"Laporan itu, secara rutin kami kirimkan tiap bulan, Pak ?"

Ketika Pak Kabin jadi mengadakan supervisi di sekolah itu semua guru sudah siap dengan kelengkapan administrasinya termasuk Drs. Kardun. Ia sudah siap pula dengan"Persiapan harian." yang diciptakannya setengah malam, namun demikian ternyata yang diutamakan diperiksa kelengkapan administrasi adalah guru-guru yang mau naik tingkat saja. Sehingga Drs. Kardun yang telah membuat "persiapan" dengan pertolongan sebuah kalender, catatan libur dan dua buah ballpoint hitam dan biru dan sebuah pulpen, tidak diminta memperlihatkannya. Yang diadakan adalah konsultasi dengan guru-guru di ruang rapat. Meskipun ia sama sekali tidak merasa lega ataupun mendongkol sebenarnya ia ingin tahu juga reaksi Bapak Kepala Kabin terhadap "persiapannya" dan bertekad untuk mengatakan hal yang sebenarnya bila sang Bapak menanyakan tentang persiapan itu. Ia tahu benar Kepala Kabin seorang yang cukup baik human approach dan human understandingya di samping seorang yang correct.Sehabis konsultasi diadakan ramah tamah (dimantapkan dengan pincuk nasi rames) Drs. Kardun menyalami Bapak Kepala Kabin dan merekapun berceloteh.
Pak Kardun : "Akh, sayang bapak tidak melihat persiapan saya, begini rapi dan teratur." Sambil memperlihatkan buku persiapannya.
Pak Kabin :" Coba lihat, Yi." Kata Bapak Kepala Kabin yang selalu tak mau lepas dari cangklongnya. Bapak Kepala Kabin ini berkumis dan berjenggot, tinggi, berkacamata, dan cinta cangklonya. Pangkatnya usianya kurang lebih sama, dan sama-sama pula paceklik rambut bagian depan yang bertransmigrasi ke belakang.
"Pak Kabin : " Hmmmmm" Kata PBapak Kepala Kabin sambil melihat beberapa lembar "persiapan" Drs. Kita secara santai saja, sementara cangklong bertengger pada mulutnya."Bagus Yi, rapih (memang Ny. Kardun baru tadi pagi menyampulnya). Hanya baiknya, tanggalnya juga harap disesuaikan. " Kata Kepala Kabin dengan ramah dan santai, sambil mengembalikan buku persiapan doktorandus kita.
Pak Kardun : "Yah ampun, salah lihat kalender?????????????"
Drs. Kardun memang membuat sebuah kesalahan fatal. Kalender yang dipakainya sebagai pedoman adalah kalender tahun yang lalu.




Lapangan upacara pada hari senin pagi, pidato pengarahan Kepala Sekolah tentang tata tertib dan disiplin di sekolah.
Kepala Sekolah : " Cuma anak bandel yang beramput gondrong, rambut harus pendek dan rapih, setiap murid yang memasuki suatu sekolah harus sudah siap secara fisik dan mental untuk memenuhi tuntutan-tuntutan berupa norma-norma dari sekolah itu, orang yang rambutnya panjang berarti tidak disiplin." Dengan semangat berkhotbah tentang keharusan berambut pendek
"Copet-copet pasar baru kabarnya kebanyakan berambut pendek. Rambut panjang adalah urusan mode." Kata Jalil berbisik di barisan guru-guru.
" Sssst, diam kita sedang upacara, nanti bapak Kepala Sekolah marah tidak diperhatikan." Kata Kardun, dalam hati kardun berbisik " (Aku sendiri tidak setuju dengan pendapat Jalil itu. Dalam beberapa hal memang aku sependapat dengan Pak Kepala. Bahwa tiap murid yang memasuki suatu sekolah sudah siap dengan fisik mental untuk memenuhi tuntutan berupa norma-norma dari sekolah itu).
"Tapi aku tidak sependapat bahwa urusan rambut ada sangkut pautnya dengan nilai-nilai manusia secara pribadi. Rambut panjang berarti tidak disiplin, aku tidak sependapat." Kata Kardun sambil berbisik kepada Jalil.
EFEK pidato sang Kepala Sekolah itulah yang membuat aku duduk berserah kepala kepada Si Mamang tukang cukur di jalan Jengkol.
" Bagaimanapun juga adalah tidak adil apabila aku sebagai salah seorang guru di sekolah itu tidak memberikan contoh kepada murid-muridku." Dalam bisikan hati Kardun.
"Mau di cukur den, silahkan duduk." Dengan perkataan "Bismillah" si Mamang cukur mulai bereaksi.
Di mulai dengan menutupi badan dengan kain yang dulunya pernah berwarna putih. Kemudian dengan pencukur ketam yang tidak terlalu tajam ia mulai melaksanakan profesinya, memendekan rambutnya yang keriting ala sapu ijuk kekeringan, yang karuan saja karena sang ketam sudah waktunya di purnawirawankan membuatnya beberapa kali tercengir-cengir karena rambutnya bagian sisi tertarik oleh alat cukur yang kelewat antik itu.
"Aduduh.... pelan-pelan atuh mang !" Karena rambutnya tertarik oleh alat cukur.
"Baik Gan, "Nguk" mamang akan pelan-pelan "nguk".
"Namun bagaimanapun juga untuk bercukur yang lebih representatif berarti minimal 10.000 perak harus ku ungsikan ke kantong sang barbir. Dengan sedikit menangung resiko rambut tertarik-tarik aku bisa menghemat 7.500,- perak. Karena dimuka ku terpampang kertas kumal yang dimaksudkan sebagai tarif. Bunyinya : Cukur " SEDERHANA" Jalan Jengkol 57. Potong rambut Rp 2.500,- Jenggot Rp 1000,- anak-anak Rp 1.500,- lumayan. Sisanya yang Rp 7.500,- perak dapat aku belikan "layer" (makanan ayam bertelur) sebanyak 2 kg. " Guman Kardun dalam hati. "Yah lumayan hemat."
"Aden ini guru yah, kayak anak Emang, Nguk !!!"
"Iya, Mang guru SMP" Ternyata Si Mamang orangnya peramah, seperti biasa tukang-tukang cukur lain. Satu hal yang cukup unik dari si mamang ini, ialah apabila berkata tenggorokannya keluar bunyi "Nguk" seperti orang tercekik. Aku kurang tahu apakah si Mamang cukur ini adalah bekas korban bengek atau bukan." Guman Kardun dalam hati.
Sementara si Mamang bekerja sambil mengomong terus serta selingan bunyi nguk-ngukan, Pak Kardun menjamah sebuah surak kabar lama dan membacanya.
"Nguk" ! Kabarnya Den, mulai satu Nopember nguk mah, Aden kalau ngebonceng harus pakai helm dua-duanya."
"Hooh." Dengan malas Kardun menjawab, karena sedang membaca surat kabar.
"Anak Emang juga yang kerja Nguk ! di Esde Cikurutug tangtunya musti pake."
"Apa motornya ?" tanya Kardun diantara kantuk akan huruf-huruf.
"Motor Bebek '76, Den. Tada teuing lucunya. Pake motor bebek, yang nguk ! dijalannya sama dengan sepeda, pake helem lagi. Apalagi kalau bonceng istrinya Nguk !!Hehehe. Dua-duanya Nguk ! Harus pakai helem. Dan sekarang mah, Nguk ! kalau ngebonceng mesti ngejegang seperti laki-laki para istri teh."
"Tapi toh itu untuk keamanan para pengendara itu sendiri."
"Betul, Den, tapi kalau sudah cilaka mah, Nguk ! Cilaka. dan Lagi, Den, Nguk ! Kalau pake Helem rasanya para pengendara ingin ngebut saja nguk !"
" Tapi tokh dengan adanya helem maka kemungkinan kematian akan diperkecil."
Pada saat itu pula Pak Kardun membaca sebuah berita yang berbunyi :

HAMPIR BUNUH ISTRINYA
TUKANG CUKUR SENEWEN

Bandung (PR) seorang tukang cukur yang
berparktek di jalan J No. 57, nyaris membunuh
istrinya, apabila tetangga-tetangganya yang
mendengar teriakan minta tolong dari istrinya
tidak datang ketempat itu. Peristiwa yang terjadi
kemarin malam itu dapat diterangkan bahwa
tukang cukur itu sudah lama menderita penyakit
ingatan, sehingga dalam keadaan kalap ia hampir
membunuh istrinya dengan sebuah pisau cukur.
Untuk sementara waktu dst. dst.

Dia tidak selesai membacanya berita itu, akan tetapi secepat kilat matanya menuju papan tarif tadi :CUKUR SEDERHANA, JALAN JENGKOL 57"
"Wah tukang cukur ini yang masuk berita dalam koran yang hampir membunuh istrinya."Bahwa si Mamang yang Nguk-ngukan ini adalah seorang senewen. Bahwa dia kini di dalam cengkramannya. Bahwa gunting yang kini dipegangnya untuk memendekan rambut mungkin akan dipakianya untuk memendekan umurku. Segala sesuatu yang tak diharapkan bisa terjadi dari tangan seseorang yang sinting." Pikir Kardun dalam hati.
Bulu kuduknya mendadak berdiri, peluh mulai mengucur dari dalam dan ketiaknya. Sementara Si Mamang mulai memotong rambutnya sambil mulutnya kulihat kumat kamit bercerita diselingi nguk-ngukan dari tenggorokannya.
"Celaka aku ! Goblok aku ! Karena ingin menghemat 7.500,- perak demi ayam-ayam keparat itu aku mesti menyerahkan nasib pada tangan si tukang cukur sinting ini." Guman Kardun dalam hati.
Drs Kardun, melamun tentang keluarganya : " Beberapa kemungkinan akan terjadi. Istriku akan jadi janda, dan anak-anaku akan jadi yatim. Dan satu lowongan pekerjaan akan terjadi di sekolahku. Demikian pula PD V PGRI akan kehilangan seorang anggota biro meskipun sedikit kerjanya. Aku tidak memikirkan tunjangan kematian yang akan diserahkan Biro Sosek kepada keluargaku. Aku cuma memikirkan cara aku melepaskan diri dari tangan si tukang cukur ini."
Di ruang tempat tukang cukur ia melamun lagi : " Untuk adu tenaga dengan dia, orang sinting itu, apalagi dengan gunting di tangan, adalah perbuatan yang sama sintingnya. Dan terbayang olehku proses selanjutnya setelah gunting ini : "Pisau cukur! Bila aku tidak ditikamnya dengan gunting ini niscahya pisau cukur itulah yang akan mengungsikan aku ke alam barzah. Padahal aku kelewat betah di dunia Tuhan ini. Aku mesti mencari kesempatan melepaskan diri. Si Mamang melepaskan kain penutup badanku dan ...aku terlambat sepersekian detik karena setelah sebentar membuang rambut-rambut yang menempel pada kain itu sambil sebentar-sebentar terdengar bunyi nguk ! Ia tahu-tahu sudah menaruhnya kembali."
Dengan sebuah sikat butut ia mengulasi muka dan pinggir kepalanya dengan sabun dari kwalitas yang paling rendah. Ia melihat menjangkau sebuah pisau cukur.
Hatinya berkata kini persoalannya adalah : "Sekarang atau tidak sama sekali ! Bagiku saat itu adalah persoalan hidup dan mati.
Ketika si Mamang sambil tenggorokannya berbunyi nguk-ngukan sedang mengasah pisau cukur itu dengan kulit pengasah, secepat kilat dia melompat dari atas kursi itu dan lari keluar. Belum pernah ia merasa ingin lari secepat itu. Pantatnya seakan-akan ingin mendahului badan depannya dan seperti biasanya apabila dalam suasana ketakutan, pantatnya mulai memberobot terbatuk-batuk seperti stengun yang ditembakan otomatis. Dan dia lihat si Mamang keluar dan dia lihat akan mengejarnya. Tangannya kulihat memegang sesuatu benda yang diacung-acungkannya sambil berteriak sesuatu.
" Eeeeeeuuy, cukurnya belum selesai, jangan dulu lari....."
Pak Kardun berlari terus di kejar tukang cukur. Dan orang-orang melihatnya keheranan. Pak Kardun memang mirip pelonco yang sedang digojlog oleh senior-senior yang kuliahnya tidak tamat-tamat. Dengan mukanya penuh sabun dan tutup badan niscahya sangat tepat apabila disebut barongsai menari. Beberapa anak kecil kulihat menunjuk kearahnya sambil tertawa. Untung tidak ada seorang yang lidahnya latah untuk meneriakan : "Copet ! Karena apabila itu terjadi niscahya akan dikejar orang dan besar kemungkinan akan mendapat hadiah-hadiah bogem mentah.
Disebuah tikungan Pak Kardun berhasil melepaskan diri dari tutup badan yang cepat dia lemparkan. Disebuah gang kecil berhenti dan berjalan sambil melepaskan lelah.
"Tukang cukur sompret , untung aku tidak dibunuhnya, tapi ya ampun kantong ku tertinggal dan surat-surat dinas, wah celaka 12 ini." Di tempat itu Pak Kardun sadar bahwa tasku berisi surat-surat dinas dan bahan-banahn untuk "Suara Daerah" tertinggal di tempat si Mamang cukur yang bunyi nguk-ngukan dan sinting itu. Untuk kembali kesana adalah diluar segala kesanggupannya.
Pagi hari Si Jalil mendekatiku dan memberikan surat kabar, yang menjadi bahan perbincangan guru-guru di sekolah. Pak Kardun membaca surat kabar.

SAKIT INGATAN ATAU TIDAK BERDUIT ?

Bandung (PR) Seorang pria dengan muka penuh sabun
dan mengenakan tutup kain untuk bercukur telah
berlari-lari di jalan J. Menurut keterangan seorang
tukang cukur di Jalan Jengkol 57 dimana ia bercukur,
orang itu minta dipangkas rambutnya. Sementara
bercukur ia membaca surat kabar. Kemudian ketika
hampir selesai dicukur tiba-tiba melarikan diri,
sementara tasnya ia tinggalkan. Menurut nama yang ada
pada tas itu, ia bernama K dan pekerjaannya sebagai guru
SLA di kota ini. Tasnya menurut keterangan tukang
cukur itu telah dikembalikan ke jalan Talagabodas 56
dimana orang itu mengantor sebagai biro organisasi.

Macam-macam perasaan bergalau dalam hati Pak Kardun, malu, lucu, Dan merasa sebagai orang tolol saat itu.
" Dun, tukang cukur sinting itu yang kabarnya akan membunuh istrinya itu yang alamatnya di koran disebut jalan J 57 adalah memang pernah membuka tempat cukur di jalan Jomlo No. 57, bukan jalan Jengkol 57" Kata Pak Jalil sambil menyindir Pak Kardun dan memberikan kantong yang berisi surat-surat dinas itu.
"Heheheheh....saya kira dia yang sinting yang ada di koran itu. ternyata sama-sama sintingnya."



Doktorandus Karta Dundawigena alias Kardun yang punya lelakon ditunjuk menjadi Kepala Sekolah. Pak Hidayat ketika mendengar bahwa sahabat medoknya diangkat menjadi wakil Mentri Pendiknas yang paling top disekolah itu segera bersiap dengan setelombong ucapan selamat. Berita pengangkatan itu sungguh paling “Top” paling merupakan “Surprise”. Betapa tidak, karena seumur-umur mendorong kumisnya yang jarang ini, Pak Hidayat belum pernah mendengar keinginan doktorandus sobat Pak Hidayat itu untuk ikut “manggung” seperti insan-insan seangkatan Kardun yang sudah jadi penggede-penggede.
“Selamat nih bapak Direktur Drs. Karta Dundawigena, wakil Mentri Pendiknas di Legokwinaya.” Sambil mengulurkan tangan.
“Sompret, kau Hidayat monyong. “ Ia nyeletuk ketika Pak Hidayat mengulurkan tangan. “ Kau juga tahu, satu comotpun aku tidak punya ulah untuk di taksir bapak Kabin. Aku hanya pejabat Kepala Sekolah selama bapak Kepala sekolah mengikuti seminar di Jawa Tengah. Cuma karena aku yang paling senior atau paling sepuh atau paling karatan, maka aku naik pentas menjadi Kepala Sekolah darurat selama tiga minggu. Lain dari itu celakanya aku juga adalah wakil Kepala Sekolah jadi terpaksa tugas itu ditaruh diatas pundakku ini.” Yang terakhir diucapkannya perlahan-lahan.
“Tak apalah. Sedikitnya aku mengucapkan selamat padamu untuk tiga minggu selama kau menjadi insan paling top di sekolah ini.”
“Paling top tujuh puluh.” Kardun menyela. “ Untuk menjadi Kepala sekolah yang baik selama tiga minggu aku merasa berat, apalagi untuk selama karier. Ya kalau sekedar “Pangkat dulu kemampuan bagaimana nanti, Aku kira banyak yang mampu.”
“Ya, Itulah salahnya denganmu dan insan-insan tipe kamu.” “Kan kita bisa menjadi pemimpin sambil belajar ?”
“Bagiku tidak demikian. Kesiapan mental dan kesiapan kemampuan mesti berjalan bergandengan.”
“Kalau semua calon pemimpin beranggapan seperti kamu siapa pula yang mau menjalankan tugas-tugas memimpin ? Kapan pula kita akan mampu memulai sesuatu bila kita harus seratus persen ready ? Sambil tetap tidak mengerti akan pendirian sobat yang satu ini.
“Tidak, tidak banyak orang sependirian seperti aku. Untunglah ! Sungguh beruntung bahwa banyak yang punya ambisi mempertinggi karier itu wajar. Hanya yang jiwanya mati yang tidak punya secomot ambisi hidup. Kau pun jangan salah bahwa sangka bahwa aku tidak punya sedikit ambisi. Hanya mungkin bentuk dan way outnya yang tidak sama dengan sobat-sobatku yang lain.”
“Juga dalam timingnya tidak sama.” Kata Pak Hidayat menyela “Hingga sering kau ketinggalan kereta api.”
“Dari pada naik kereta api yang salah aku lebih baik tidak naik.”
“Itulah susahnya kalau berdebat dengan Kardun. Ia selalu siap dengan setelombong-telombong argumentasi, meski menurut hematku tidak semuanya tepat. Tapi biarlah Kardun punya pendapat sendiri asal tidak mengganggu jalan hidup orang lain yang tidak sependirian dengan dia.” Pikir Pak Hidayat.“Berbahagialah kita bila dalam menghadapi satu masalah kita berbeda pendapat. Artinya kita belum menjadi robot intelektuil.” Kata Kardun demi melihat aku terdiam, agaknya ia membaca pikiranku.
“Asal prinsip menghargai pendirian orang meski tidak menerimanya dan prinsip tidak saling mengganggu kita pegang teguh. Sebuah lagu yang merdu adalah lagu yang tidak bernada sama. Tidak eentoning tidak monotonous, sobat…” Sambil berjabatan tangan dengan Pak Hidayat.
Menjabat sebagai pemimpin darurat bagi insane setipe Kardun banyak menyedot keharusan-keharusan, menyesuaikan diri apalagi dari insane semacam yang punya lelakon yang kadang-kadang berpenampilan yang hanya difahami orang-orang yang dekat dengan dia. Namun demikian ternyata dia juga mampu menjadi wakil Mentri Pendiknas di sekolah itu. Hanya satu hal yang dianggap mengganggu kebiasaan rutinnya. Ialah latihan bulutangkisnya menjadi berkurang. Padahal badminton ini sangat berguna untuk mengimbangi lemak-lemak yang sudah mulai menghuni bagia-bagian tubuhnya. Biasanya tiap bebas mengajar, Kardun selalu nampak sedang memukul-mukul bulu bebek di aula.
“Waduh sudah janji main badminton dengan Pak Umar minggu kemarin, bagaimana yah ??? Sambil memegang reket bulu tangkisnya dan aduh perut ini tambah gendut saja.”
Santi salah seorang murid kelas II C mengahadap beliau…
“Pak saya mau minta ijin pulang, karena kepala saya pusing-pusing sekali, Maybe I have got a flu.” Katanya dengan dahi yang penuh dengan keringat.
“ Yah, memang kelihatannya kamu sakit perlu istirahat, biar bapak bikinkan surat ijin pulang, tapi jangan lupa langsung ke dokter, terus istirahat, karena sebentar lagi kamu akan menghadapi UAS.”
“Yah Pak terima kasih, mohon doa dari bapak mudah-mudahan ini bukan gejala flu babi…” Setelah mendapat surat pengantar sambil berjalan dengan gontai.
Orang tua murid masuk menghadap….
“Saya mau menanyakan, apa betul anak saya si Rini, setiap Kamis sore ikut latihan angklung, karena setiap hari kamis baru sampai dirumah pukul 21.00 WIB, begitukah.”
“Sebentar bu, Si Rini ikut angklung pulang jam 21.00 WIB.” Dengan heran mendengar laporan itu. “ Akan saya tanyakan dulu ke Pak Adang guru kesenian.” Sambil mengangkat gagang telepon menghubungi Pak Adang di ruang guru.
“Tolong Pak Adang, ini ada tamu, orang tua murid mau bertemu dengan Pak Adang, segera datang.” … “ Yah bu Pak Adang sedang menuju kemari.
Pak Adang masuk keruangan Kepala Sekolah.
“Ini Pak Adang bu, guru kesenian. Ini ibunya Rini mau menanyakan apakah setiap kamis sore, dia ikut latihan angklung.”Orang tua Rini dan Pak Adang bersalaman.
“Betul bu, Rini latihan angklung setiap Kamis sore, tapi maaf bu kita bias bicara di kantor saya saja, karena bapak Direktur masih harus bertemu dengan tamu yang sedang antri.
“Yah silahkan-silahkan…bu, supaya permasalahannya jelas.”

Diruang tunggu Pak Direktur Kardun sudah banyak menunggu secara antrian tukang agen densol, tukang buku tulis dan bacaan, pemborong bangunan dan orang tua siswa.
“ Kami dari perusahaan pengharum ruangan “Semerbak Harum” menawarkan kepada bapak macam-macam barang baru, perusahaan kami mempunyai selogan.”Malu bertanya sesat di jalan, sekali mencoba lupakan yang lain. Cring-cring hemat 20 % hemat 200 perak Pak, silahkan coba Pak?”
“Yah, untuk ruang pengharum sampai 2 tahun ini masih cukup persediaan, yah bila nanti habis, saya hubungi bapak 2 tahun lagi, saya minta kartu namanya saja !! Tegas Kardun.
“Terimakasih banyak pak untuk perkenalan ini.” Kata agen Densol.
“Ini buku-buku baru, masih hangat pak, enak dibaca, murah harganya, dapat di kredit 3 x bayar, untuk para guru dan untuk para siswa, untuk meningkatkan intelektual kita.”
“Yah, terima kasih, pada prinsipnya kita memang ada anggaran untuk pembelian buku-buku, tapi anggaran pendidikan hanya 6 % dari APBN jadi dengan anggaran ketat ini, kami belum bias membeli buku-buku tersebut, karena ada pos-posnya masing-masing, saya minta kartu namanya saja, nanti dihubungi kalau perlu.” Sambil berdiri menyalami kedua tamu tersebut.

Pukul 13.00 WIB, Direktur kita sudah tidak mendapatkan tamu, ia menyuruh kepada mang Oyo pesuruh sekolah.
“Mang Oyo sekarang sudah tidak ada tamu, pekerjaan saya sudah selesai, saya sudah janji sama Pak Umar minggu kemarin akan main bulu tangkis. Jadi kalau ada perlu apa-apa, ada tamu atau ada sesuatu yang harus di tanda tangani cari saja di lapangan bulu tangkis.” Sambil membawa kantong yang berisi raket, handuk dan kok.
“Baik pak, nanti mamang mencari bapak ke lapangan bulu tangkis.”

Dalam pertandingan Pak Kardun dan Pak Umar merupakan pasangan kompak, tetapi lawan kali ini bukan lawan yang cetek, lawannya pun tangguh. Point saling susul menyusul. Kedudukan 10 – 11. Tim Kardun kalah. Mang Oyo masuk permainan dihentikan.
“Pak ini surat yang tadi sudah di tik, tinggal bapak tanda tangan.”
“Surat undangan rapat mang, cing mang nonggong (membungkuk) akan saya tanda tangan.” Memegang bol point dan menandatangani di punggung mang Oyo.
“Terima kasih Pak, silahkan pak dilanjutkan.” Kata mang Oyo.
“Terima kasih mang , tolong fotocopy dan nanti bagikan pada guru-guru.”
Babak pertama Tim Kardun memenangkan pertandingan 15-13. Sejak menjabat sebagai kepala sekolah darurat, banyak urusan sekolah yang menuntut perhatian beliau. Belum lagi bicara mengenai tamu dinas dari Kabin. Permainan babak kedua tim lawan bermain lebih baik, Pak Kardun kurang konsentrasi permainan, banyak kecolongan.
“Dun, mainya konsentrasi dong, kita kecolongan melulu.” Kata Pak Umar teman Tim Kardun.
“Betul nih aku kekurangan konsentrasi.”
Permaian dilanjutkan kedudukan 6 – 12 untuk kemenangan Pak Hadi dan Pak Jaja.
“Maaf nih Pak Direktur mesti di kalahkan.” Sambil menyelesaikan pertandingan dengan sebuah smash, masuk kedudukan 8 – 15 untuk kemengan Pak Hadi dan Pak Jaja.
Baru saja rubber set akan dilanjutkan mang Oyo masuk aula.
“Gan, ada orang tua murid yang minta anaknya pindah, karena orang tuanya pindah tugas dinas.”
“Suruh ia menunggu barang dua puluh menit.” Kata Pak Kepala darurat.
“Tapi bagaimana yah Gan…” Pikir mang Oyo.
“Alaah silahkan menunggu saja di kantor. Tidak akan lama kok mang.” Kata Kardun sambil terengah-engah dan bermandi peluh. “ Katakan saja sedang ada urusan dulu.”
“ Ini juga urusan , ya Bang !” Kata Pak Hadi lawannya bertanding.
Ketika Kardun baru saja mulai kembali main, KM (Ketua Murid) kelas IIB masuk.
“Pak Kelas II B tidak punya gurunya. Pak Dadi sudah menyuruh mengerjakan soal tadi. Sekarang sudah selesai. Apakah kami boleh pulang ?”
Setelah berpikir sejenak Pak Kardun.
“Tidak, tidak boleh pulang. Belum waktunya. Sekarang lanjutkan mengerjakan soal bab berikutnya. Awas jangan ribut yah. Nanti bapak mau lihat di kerjakan atau tidaknya.” Katanya dengan tegas.
Pak Kardun kembali melanjutkan main bulu tangkisnya. Celaka baru lima menit mang Oyo sudah muncul lagi.
“Ada apa lagi Mang ? Tanya kepala darurat itu. Mesti hati kecilnya berkata inilah konsekuensinya menjadi pemimpin.
“Gan, ada tamu lagi.” Kata Mang Oyo.
“Ala suruh nunggu saja bersama orang tua yang tadi." Kata kardun sambil mengusap peluh dengan handuk.
"Tapi ini mah Gan sangat penting.""Si orang tua juga kan punya kepentingan." Sambil kembali bermain.
"Gan kali ini mah yang datang Wakil Kepala Kabin." Kata Mang Oyo serius.
"Waduh memebuat repot nih, mesti berganti pakaian."
"Masa Kepala Sekolah mana pula yang menghadapi tamu memakai pakaian olah raga." Kata Pak Jaja menyindir solmetnya. Mendengar penjelasan Si Mamang kali ini terpaksa permainan di "Skors" untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. Untunglah Wakil Kepala Kabin tidak lama singgahnya sehingga Doktorandus kita ini dapat kembali menepuk-nepuk bulu bebek.
Sungguh malang bahwa Mang Oyo datang lagi.
"Punten ini mah, Gan. Inimah tanda tangan saja, barangnya sudah diterima." Kata Si Mamang sambil memeberikan nota tanda terima.
"Oh Iya, aku ingat bahwa sekolah telah memesan 4 peti buku tulis dari toko buku." Terima kasih Mang. " Ia cepat cepat menandatangani nota penerimaannya dan cepat-cepat pula siap untuk service.
Maklumlah Drs. Kardun dan rekannya sudah hampir menang. Seandainya sudah hampir kalah kedatangan si Mamang akan dijadikan alasan untuk "tarik nafas". Dan berkat kelebihan kerjasama dan pembagian posisi meskipun stroke lawan lebih baik. Pasangan Drs.Kardun akhirnya mendapat kemenangan.
Kardun cepat-cepat berganti pakaian untuk kembali memerankan peran Kepala sekolah "fid daruri". Telepn berdering, sebuah suara berlogat Hongkong totok.
Tong Ben Sin : " Ini wapak dalektu ?"
Kardun : "Ya, pejabatnya."
Tong Ben Sin : "Apa Panyaba ?"
Kardun : " Semacam direktur juga, Tokeh." Sahut Kardun kesal campur ingin tertawa.
Tong Ben Sin : "Apa kilimang sutah ketelima ?"
Drs. Kardun teringat nota pengiriman tadi.
Kardun : "Sudah, sudah."
Tong Ben Sin : "Wakus-wakus, li sini sekalang ata yang lebih nomo satu. Apa wapa mau peseng laki?"
Kardun : "Nanti saja kalau sudah habis pesan lagi. Sekarang dibongkar saja belum."
Tong Ben Sin : "Wiasanya lua tika kali sudah hapis. Wayalnya kapang ?"
Kardun : "Nanti saja kalau sudah habis semua."
Tong Ben Sin : " Waaa, itu tita wisa. Itu untu di meca untung makang paki dang sole."
Kardun : "Nanti dulu, ini apa hubungannya dengan makan pagi makan sore ??? Kita kan sedang membicarakan kiriman buku ?" Sela Kardun sambil kesal.
Tong Ben Sin : "Wuku apa ? olang kecap, Tauco cap polote ampa peti, likilim sama situ olang.
Kardun : "Tokeh sudah salah kirim ini SMU bukan toko kecap. Tokeh sudah salah kirim,silahkan ambil lagi, maaf saya sudah tanda tangani nota pengantarnya, saya kira pengiriman buku."
Tong Ben Sin : "Watu cilaka, Si Mamat salah ngilim,....."
Beberapa saat kemudian setelah si tokeh mengambil kirimannya, Drs. Kardun sedang mengisi agendanya. "Satu lagi pengalaman menarik tapi bikin dongkol. Gara-gara gedung sekolah bekas pabrik. Satu bahan bagus bagi temanku Hidayat buat bahan "Golempang".